Kritis Tidaklah Destruktif

Disukai atau tidak, globalisasi telah mengubah cara kita bekerja dan hidup. Kita semakin dihadapkan dengan masalah yang kompleks yang mempengaruhi kehidupan manusia di seluruh dunia, mulai dari pemanasan global, polusi, krisis keuangan, atau penyakit epidemik baru. Kita perlu pemikiran yang baik dan ide-ide kreatif untuk mengupayakan usaha untuk memecahkan masalah-masalah ini. Pada tingkat pribadi, globalisasi memang mempercepat apapun dalam kehidupan. Kita sudah memiliki sejumlah besar informasi yang mudah untuk diperoleh, namun apa yang kita peroleh pada hari ini dapat dengan mudah usang esok hari. Meskipun perubahan yang cepat juga membawa peluang baru, kita sekarang harus bersaing dengan orang-orang berbakat di seluruh dunia. Untuk menjadi sukses dalam lingkungan ini, kita memerlukan keterampilan berpikir yang baik yang dapat membantu kita mengambil keputusan yang handal dan memperoleh pengetahuan baru dengan lebih cepat.

Pendahuluan

Tapi apa sih yang dimaksud dengan kemampuan berpikir yang baik? Inti dari “berpikir yang baik” adalah “berpikir secara kritis” dan “berpikir secara kreatif“. Berpikir secara kritis adalah berpikir secara jernih dan rasional yang tentu saja melibatkan cara penggunaan pikiran secara tepat, efisien dan sistematis serta mengikuti aturan dan pedoman penalaran logika dan ilmiah. Adapun berpikir secara kreatif merujuk pada datangnya ide-ide dan gagasan-gagasan baru dan berguna untuk menghasilkan kemungkinan alternatif. Apa yang tertulis di sini adalah tentang dua keterampilan berpikir yang tadi disebutkan. Tapi pada saat ini, kita mungkin bertanya, mana yang lebih penting, berpikir kritis atau berpikir secara kreatif? Jawaban singkatnya adalah keduanya sama-sama penting. Kita membutuhkan kreativitas agar ide-ide untuk memecahkan masalah datang, tapi kita juga perlu berpikir kritis untuk mengevaluasi dan meningkatkan ide-ide tersebut. Keduanya saling melengkapi satu sama lain, dan kita jelas membutuhkan keduanya untuk bertahan hidup pada era globalisasi ini.

Dalam tulisan ini kita akan pertama kali membahas tentang pemikiran kritis, dan bagaimana cara untuk berpikir secara kreatif di bagian akhir tulisan ini. Apa sih ciri seorang pemikir kritis? Seorang pemikir kritis adalah seseorang yang mampu melakukan hal-hal berikut:

  • Memahami hubungan logis antara gagasan yang ada di dalam pikirannya.
  • Merumuskan ide secara ringkas, efisien dan tepat.
  • Mengenali, membuat dan mengevaluasi argumen.
  • Mengevaluasi pro dan kontra dari sebuah keputusan.
  • Mengevaluasi bukti yang mendukung dan menolak hipotesis yang telah diajukan.
  • Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam penalaran.
  • Menganalisis masalah secara sistematis.
  • Mengidentifikasi relevansi dan pentingnya sebuah gagasan.
  • Menjustifikasi keyakinan seseorang dan nilai-nilai yang dipercayainya.
  • Merenungkan dan mengevaluasi keterampilan seseorang dalam berpikir.

Seperti yang bisa kita lihat pada daftar di atas, keterampilan berpikir kritis sangat penting untuk semua jenis karier pekerjaan di mana di dalamnya kita harus mengkomunikasikan gagasan, membuat keputusan, membuat analisis, dan memecahkan masalah. Inilah sebabnya mengapa “berpikir kritis” disebut sebagai “Domain-general Thinking Skill” (keterampilan berpikir untuk semua bidang). Tapi berpikir kritis tidak hanya untuk tempat kerja. Untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan rencana untuk masa depan, kita perlu berpikir tentang diri kita secara jujur, benar dan hati-hati. Filsuf Yunani, Socrates (469-399 SM) pernah berkata, “kehidupan yang tak teruji tidak layak disebut sebagai kehidupan.” Salah satu perbedaan besar antara manusia dan hewan lainnya adalah kemampuan kita untuk melakukan refleksi diri akan setiap yang kita telah lakukan. Kita bisa memeriksa tujuan dan arti hidup kita dan mengubah diri kita sendiri karenanya. Nah, berpikir kritis berkontribusi besar terhadap proses evaluasi diri dan transformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Pemikiran kritis yang baik juga merupakan dasar dari ilmu pengetahuan (sains). Sains membutuhkan rasionalitas dalam merancang percobaan dan teori pengujian. Selain itu, dengan berpikir kritis yang baik mampu menghindarkan kita dari prasangka yang buruk. Sehingga, jelas lah pemikiran kritis harus menjadi tujuan utama pendidikan, dan tentu saja harus menjadi budaya kehidupan.

Beberapa Kesalahpahaman dalam Memahami “Berpikir Kritis”

Namun, berpikir kritis kadang-kadang dianggap terlalu konfrontatif dan agresif. Beberapa orang berpikir pemikiran kritis berarti selalu mengkritik orang lain setiap waktu, sesuatu yang sama-sekali tidak konstruktif (bersifat membangun). Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman dam miskonsepsi belaka. Berpikir kritis bukanlah kekuatan destruktif murni seperti halnya The Tesseract dalam cerita The Avengers. Alasannya? Pertama, dengan menolak ide-ide buruk, kita menjadi lebih baik dan lebih bisa dalam menemukan kebenaran. Kedua, berpikir kritis bukan berarti kita mengkritik orang lain setiap waktu. Ketika orang lain benar, kita tidak harus menolaknya karena tidak setuju. Dan ketika orang lain salah, berpikir kritis membantu kita mengenali kesalahan yang diperbuatnya, tetapi tidak berarti kita harus mencelanya dan menghinanya. Bahkan, kadang-kadang sebuah kesalahan tidaklah menjadi masalah sebab kadang-kadang kita dapat membantu orang lain menemukan kesalahannya dengan menggunakan petunjuk dan saran-saran yang bersifat konstruktif. Seorang pemikir yang kritis bersifat simpatik dan konstruktif ketimbang konfrontatif dan destruktif.

Miskonsepsi lain untuk pemikiran kritis adalah bahwa hal itu tidak berguna secara praktis karena sebagian besar orang-orang dalam kehidupan nyata tidak mendengarkan alasan: mereka bertindak atas dasar kepentingan pribadi, dasar emosi, atau dasar ada hubungan antar pribadi. Bila demikian, maka sebenarnya yang memiliki miskonsepsi tersebut adalah “orang bingung” yang membingungkan pemikiran rasional dengan berbicara tentang alasan. Mungkin benar bahwa banyak orang di dunia ini yang tidak rasional, dan untuk mempengaruhi mereka kita perlu untuk menarik orang yang lebih tinggi otoritasnya, perlu sikap emosional, atau apa pun selain menggunakan alasan yang bersifat logis. Tapi kita masih bisa menggunakan pemikiran kritis untuk berpikir secara strategis tentang cara terbaik untuk mencapai tujuan kita, tentu secara efisien.

Selanjutnya, bila ada yang bilang bahwa pemikiran kritis menentang emosi, hubungan, dan sebagainya, maka orang tersebut belum lah mengetahui manfaat sebenarnya. Sebagai contoh, kita dapat ambil hubungan antara sepasang kekasih. Dalam hidup, tentu saja hubungan percintaan sangat lah berharga. Tapi, pemikiran kritis dapat membantu kita mengembangkan hubungan percintaan tersebut. Misalnya, berpikir secara hati-hati tentang apa yang baik atau buruk tentang hubungan dapat membantu kita memperbaikinya dan membuatnya lebih memuaskan kedua belah pihak. Selain itu, adalah tidak selalu bijaksana untuk bertindak semata-mata atas dasar emosi. Seseorang yang bertindak atas dasar emosi bisa saja tidak fokus dan cenderung bias oleh ego, nafsu pribadi, rasa takut, dan tentu saja keserakahan. Nah, dengan berpikir lebih lanjut tentang keputusan yang kita buat dapat mengatasi masalah ini.

Meningkatkan Kemampuan Berpikir

Jadi bagaimana kita meningkatkan pemikiran kritis kita jika memang hal tersebut sangat berguna? Jelas, kita semua mampu berpikir kritis sampai batas tertentu, atau kita tidak akan bertahan hidup lama dalam era globalisasi seperti sekarang! Tapi ingat selalu bahwa “selalu ada ruang untuk perbaikan“—there’s always a room for improvement. Bahkan dengan keterampilan yang alami seperti halnya berjalan, dengan cara latihan bersama seorang ahli yang dapat meningkatkan pernapasan dan postur tubuh mampu membantu kita berjalan lebih baik lagi. Berpikir adalah sesuatu yang kita semua sering lakukan, tetapi dalam kenyataannya adalah bahwa bahkan biasanya orang-orang cerdas kadang-kadang bisa keras kepala dan berpikir secara bias. Penelitian psikologi memberitahu kita bahwa orang cerdas banyak membuat banyak kesalahan dalam penalaran mereka, sebab mereka menganggap kemampuan mereka di atas kemampuan semua orang, dan menganggap semua orang akan mengiyakan prasangka mereka prasangka, dan akhirnya mencari penyebab dan pola di tempat yang salah. Namun, dengan mempelajari cara pemikiran kritis, kita lebih cenderung untuk menghindari kesalahan tersebut. Kita juga dapat membantu orang lain dengan mempelajari pemikiran kritis. Kadang-kadang kita merasa bahwa argumen yang salah, tapi kita tidak tahu tepatnya mengapa. Berpikir kritis memberi kita konsep dan kosa kata untuk menjelaskan apa yang salah yang justru mendorong pemahaman dan memungkinkan agar diskusi dapat dilaksanakan secara lebih efektif.

Pemikiran kritis yang baik adalah sebuah keterampilan kognitif. Secara umum, mengembangkan suatu keahlian membutuhkan tiga kondisi: belajar teori, melakukan praktik yang disengaja terhadap teori yang dipelajari, dan mengadopsi sikap yang tepat. Yang kami maksud dengan teori adalah aturan dan fakta yang harus kita ketahui agar dapat memiliki keterampilan. Sebagai contoh, seseorang tidak bisa menjadi pemain basket yang baik tanpa mengetahui aturan main: contohnya, menendang bola basket tidak diperbolehkan. Demikian juga, berpikir kritis membutuhkan pengetahuan sejumlah logika. Namun, dengan hanya mengetahui teori tidak lantas mendatangkan kemampuan untuk mampu menerapkannya. Kita mungkin tahu dalam teori bahwa kita harus menyeimbangkan sepeda ketika menggunakan bersepeda, tapi itu tidak berarti kita benar-benar bisa melakukannya, karena banyak juga orang yang tahu teori bersepeda tapi tak dapat menyeimbangkan dirinya dalam praktik bersepeda. Di sinilah praktik menjadi hal yang dibutuhkan, karena praktik mampu menerjemahkan pengetahuan teoritis ke dalam kemampuan yang sebenarnya. Apakah sudah cukup? Belum. Sikap kitalah yang membuat perbedaan besar, karena sikap konsistensi kita dalam belajar akan menjadikan latihan kita efektif dan berkelanjutan. Saat kita benci bermain gitar, memaksa diri untuk berlatih dalam jangka panjang tentu saja sama sekali tidak produktif dan buang-buang waktu.

Teori

Mari kita sekarang melihat pengetahuan teoritis yang diperlukan untuk pemikiran kritis yang baik. Hal ini dapat dibagi menjadi lima bidang utama, dan dalam tulisan ini kita akan membahasnya satu per-satu:

  1. Analisis makna: Jelaskan ide dan gagasan dengan jelas dan sistematis, dengan menggunakan definisi dan alat-alat lain untuk memperjelas makna dan membuat gagasan yang lebih akurat.
  2. Logika: Menganalisis dan mengevaluasi argumen, mengidentifikasi konsekuensi logis dan inkonsistensi.
  3. Metode ilmiah: Gunakan data empiris untuk menguji teori, mengidentifikasi sebab dan akibat, menguji teori probabilitas dan statistik.
  4. Keputusan dan nilai-nilai: pengambilan keputusan Rasional, refleksi kritis tentang kerangka nilai dan penilaian moral.
  5. Kekeliruan (fallacy) dan bias: kesalahan dalam penalaran dan sifat-sifat psikologis mungkin menyebabkan munculnya kekeliruan dan tentu saja ketidakfokusan terhadap masalah.

Dalam perjalanannya, tentu kita bisa saja menemukan beberapa topik yang lebih menarik daripada yang lain. Tapi entah kita belajar seni bela diri atau piano, ada teknik dasar yang kita harus kuasai. Teknik-teknik tersebut mungkin membosankan, tetapi sebenarnya teknik-teknik tersebut membentuk dasar teknik yang justru jauh lebih maju dan “canggih”. Hal yang sama berlaku untuk berpikir kritis. Beberapa teori dan prinsip-prinsip tampak agak “garing” dan abstrak, tapi sejujurnya penulis harap kita dapat menghargai kekuatan yang ditimbulkan oleh teknik-teknik dasar tersebut dan relevansinya dalam pemikiran yang kita lakukan sehari-hari setelah kita memahami bagaimana teknik-teknik tersebut dapat diterapkan.

Praktik

Para psikolog telah menemukan aturan 10-tahun dalam hal untuk memperoleh suatu keahlian. Dibutuhkan sekitar 10 tahun praktik secara intensif dan terstruktur atau sekitar 10.000 jam praktik untuk mencapai kemampuan tingkat “world-class” di daerah tertentu, bahkan untuk individu yang berbakat. Aturan ini seharusnya berlaku untuk semua jenis keahlian, baik itu olahraga, musik, catur, menulis, atau penelitian ilmiah. Bahkan anak ajaib dan jenius seperti Wolfgang Amadeus Mozart menghabiskan bertahun-tahun berlatih alat musik dan menulis potongan-potongan nada yang lebih kecil, di bawah tekanan besar dari ayahnya, yang juga merupakan seorang musisi yang luar biasa. Banyak komposisi Mozart di masa kecil adalah komposisi dari karya komposer lain, atau bisa saja dianggap sebagian ditulis oleh ayahnya. Saat Mozart dihargai oleh para kritikus dalam menciptakan komposisi nada yang terbilang “Wow”, saat itu Mozart sudah menulis lebih dari 10 tahun.

Tahun-tahun awal dan juga perhatian orang tua yang berdedikasi adalah dua tema yang khas dalam mencapai kinerja kelas dunia. Tiger Woods menjadi salah satu pemain golf paling sukses sepanjang masa. Ketika Tiger berusia 18 bulan, Earl Woods mulai sering mengajak anaknya ke lapangan golf, dan pelatih dipekerjakan ketika Tiger adalah 4 tahun. Earl pun terus melatih anaknya, dan hanya lebih dari 10 tahun kemudian pada tahun 1991, Tiger menjadi Juara Junior Amatir Golf Amerika Serikat termuda.

Tentu saja, waktu tak akan dapat bisa kembali lagi, sehingga adalah tidak realistis bila kita hendak meningkatkan kemampuan berpikir kita. Tidak diperlukan secuil pun pikiran orang jenius untuk mengetahui bahwa kemampuan berpikir yang baik tidak datang secara gratis–diperlukan usaha yang sangat matang dan serius. Jika kita serius meningkatkan pikiran kita, kita harus melakukannya dengan penuh perhitungan dan rencana serta siap untuk menghabiskan banyak waktu latihan. Hanya dengan membaca tulisan ini tidak akan cukup menjadikan kita sebagai pemikir kritis, karena kita juga perlu melakukan latihan dan menerapkan pengetahuan untuk kehidupan sehari-hari. Berpikir kritis harus menjadi kebiasaan alami, cara hidup, bukan sesuatu yang lakukan sesekali saja saat butuh.

Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mengubah pemikiran kritis menjadi kebiasaan alami? Berikut adalah metode sederhana dan praktis bagi kita untuk dicoba. Untuk mengikuti metode ini, kita biasakan untuk menanyakan keempat pertanyaan dasar tentang ide-ide baru yang kita temukan:

Pertanyaan Hal-hal yang bisa dipikirkan
Apaan sih? Apa sih maksudnya? Apakah kata kunci dan konsep-konsep utama yang jelas? Dapatkah gagasan-gagasan tersebut dibuat lebih jelas dan akurat? Apakah ada hubungan antara hal tersebut dengan hal-hal lain? Bisakah memberikan contoh untuk menggambarkan apa yang dimaksud?
Berapa banyak alasan yang mendukung dan keberatan yang menolak? Buatlah sebuah daftar alasan yang mendukung sebuah klaim dan melawan klaim tersebut. Pikirkan dan lakukan evaluasi terhadap alasan. Pikirkan tentang kedua sisi dari sebuah isu. Apakah ada klaim yang dapat menandingi klaim kita?
Mengapa hal ini penting atau relevan? Apakah konsekuensi utama saat kita menggunakan hal itu? Bagaimana hal itu mempengaruhi orang? Apakah itu berguna? Apakah itu mengherankan? Apakah saya belajar sesuatu yang baru dan menarik dari sesuatu tersebut?
Adakah kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan? Informasi tambahan apa yang mungkin relevan? Adakah Setiap kasus serupa untuk dipikirkan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin terlihat sederhana dan mungkin “konyol”, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya cukup kuat karena memperkenalkan sebuah struktur yang baik untuk membuat analisis kita teratur. Sebagai contoh, misalkan kita membahas boleh tidak untuk memakan hewan (seperti yang sering dikeluhkan oleh Vegetarian? Berikut adalah contoh bagaimana kita dapat menerapkan metode di atas:

  1. Pertanyaan yang pertama pertanyaan (Apa maksudnya?) adalah sebuah pertanyaan yang menjelaskan konsep-konsep kunci sehingga kita dapat memahami lebih jelas tentang sebuah klaim yang sedang didiskusikan.
    • Apa sih yang dimaksud dengan “hewan“? Anjing dan ayam jelas adalah hewan. Tapi, apakah ikan, serangga, bakteri juga hewan? Apakah itu juga salah untuk memakannya? Di mana kita bisa menarik garis merah?
    • Jika makan hewan adalah sesuatu yang salah, seberapa salahkah hal itu? Apakah seburuk membunuh orang?
  2. Untuk melaksanakan langkah kedua, kita tuliskan semua alasan yang mendukung dan menolak klaim yang sedang kita pikirkan.
    • Argumen yang menentang makan daging hewan bisa saja: karena hewan juga memiliki hak asasi, atau adalah lebih efisien untuk menggunakan tanah untuk menanam sayuran daripada memelihara hewan ternak.
    • Argumen di sisi berlawanan bisa saja: hewan ternak ada karena kita pun ada dan dilihat dari sisi rantai makanan, kita berada di tingkat yang paling tinggi mengingat kita lebih cerdas daripada hewan ternak.
    • Adalah sebuah ide yang sangat baik bila kita hendak menghitung jumlah argumen. Dalam contoh ini, ada dua argumen yang melawan dan satu yang mendukung.
    • Pikirkan kedua sisi dari masalah ini. Bahkan jika kita berpikir makan daging baik-baik saja, kita harus mencoba menentang argumen yang melawan kita. Kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam posisi kita sendiri dan mampu mempertahankannya secara lebih baik.
    • Mengevaluasi argumen di kedua belah pihak. Apa yang tampaknya menjadi argumen yang baik mungkin ternyata tidak menjadi kasus yang membutuhkan refleksi lebih jauh, misalnya, mengapa bisa kita makan binatang hanya karena kita lebih pandai? Apakah itu juga berarti orang dewasa bisa makan bayi dan alien yang mungkin lebih cerdas bisa makan manusia?
  3. Langkah ketiga adalah mempertimbangkan apakah masalah ini penting. Apakah itu diperlukan sebuah jawaban yang benar atau salah? Pentingkah jawaban yang benar dari masalah ini? Adakah implikasi teoritis, sosial, personal, atau politik yang ditimbulkan nantinya?
    • Apakah dunia akan berbeda jika lebih banyak orang berhenti makan daging?
    • Seberapa penting pertanyaan ini jika dibandingkan dengan isu-isu lain seperti kemiskinan dan kelaparan atau bahkan pemanasan global?
  4. Langkah terakhir adalah mengeksplorasi kemungkinan alternatif dan masalah lebih lanjut.
    • Apakah tingkat kecerdasan hewan membuat perbedaan, sehingga hewan yang lebih bodoh bisa dimakan?
    • Bagaimana kalau kita makan hewan yang dulunya waktu hidup dibesarkan dalam lingkungan yang bahagia dan dibunuh dengan cara yang menyakitkan? Apakah ini juga salah?
    • Bagaimana dengan makan binatang yang mati secara alami? Bagaimana jika kita bisa menumbuhkan daging dengan menggunakan metode stem cell sehingga kita bisa makan daging tanpa membunuh binatang?

Seperti yang kita lihat, meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah pertanyaan yang sangat sederhana, pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita meneliti masalah secara mendalam dari sisi perspektif yang berbeda. Untuk meningkatkan pemikiran kita, gunakan metode ini sesering mungkin dalam kehidupan sehari-hari, saat kita membaca majalah koran, browsing Web, menonton TV, atau sedang mengobrol dengan orang lain. Kita pun akan menjadi seorang pemikir, tentu saja secara lebih canggih, sistematis, dan kreatif.

Sikap

Jika kita menikmati sebuah kegiatan dan percaya bahwa kegiatan tersebut sangatlah penting adanya, kita mungkin akan menaruh perhatian lebih serius terhadap kegiatan tersebut dan lebih memperhatikan kinerja Anda. Demikian pula, ada beberapa sikap positif yang kita dapatkan karena berpikir secara kritis:

  • Sikap pikiran mandiri: Berpikir secara baik dan kritis itu sulit. Beberapa orang di sekitar kita mungkin hanya ingin tahu jawaban dari sesuatu daripada menyelesaikannya sendiri. Yang lain tidak memiliki kesabaran untuk memikirkan gagasan yang abstrak dan rumit. Seorang pemikir yang baik adalah mampu berpikir secara mandiri dan bila perlu, “melawan arus” yang sudah ada.
  • Sikap pikiran terbuka: Seorang pemikir yang baik melihat bukti secara objektif, dan bersedia untuk menunda penilaian atau mengubah pendapatnya tergantung pada bukti yang didapatnya. Ini bukanlah sebuah tanda kelemahan. Seorang pemikir yang berpikiran terbuka tidak akan bersifat dogmatis. Dia bersedia mengakui kesalahan, berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan baru, dan tidak akan menolak gagasan baru tanpa alasan yang baik.
  • Sikap kepala dingin dan sikap ketidakberpihakan: Berpikir secara baik tidak serta-merta harus menanggalkan emosi. Tapi kita harus sebaiknya tidak membiarkan perasaan kita menguasai pemikiran kita. Sebagai contoh, sulit untuk berpikir jernih jika kita mendapati diri kita mudah marah ketika orang lain tidak setuju dengan kita atau menolak gagasan kita. Evaluasi yang adil dan obyektif membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik.
  • Sikap analitis dan reflektif: Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Seorang pemikir yang baik adalah orang yang menghabiskan waktu untuk menganalisis masalah secara lebih sistematis dan hati-hati dan secara aktif mencari argumen dan bukti di kedua sisi. Dirinya tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kekuatan dan kelemahan sendiri untuk meningkatkan kinerjanya sendiri dalam berpikir dan bertindak.

Sikap-sikap di atas adalah sikap yang sangat penting dalam rangka memiliki pemikiran yang baik, namun sepertinya sikap-sikap tersebut lebih merupakan cara hidup daripada sebuah pengetahuan teoritis. Yeah, kita harus melakukan internalisasi agar menjadikannya bagian dari kebiasaan dan kepribadian kita. Memang ngomong lebih gampang daripada dilakukan–easier said than done! Namun ingat, untuk memiliki pemikiran yang baik dan kritis membutuhkan banyak waktu dan usaha. Jika kita bersedia untuk mengubah diri kita sendiri saat kebanyakan orang tidak mengubah diri mereka, tentu hal ini memberikan kita kesempatan untuk menjadi lebih unggul dan menjadi lebih baik daripada orang-orang di sekitar kita.

Allâhu a`lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *