Gimana sih Caranya: Mengizinkan PING ke komputer

Windows Firewall memang sudah ada sejak Windows XP Service Pack 2, namun keberadaannya serasa “tak dirasakan”. Namun, kadang-kadang Windows Firewall jugalah yang sebenarnya memproteksi Windows dari beberapa kerjaan yang kurang baik dari orang yang kurang baik. Salah satunya adalah PING yang selalu gagal.

Kenapa hal itu terjadi? Secara default, Windows Firewall yang ada di dalam Windows XP Service Pack 2 ke atas itu memblokir semua lalu lintas data ICMP (Internet Control Message Protocol), sehingga segala sesuatu yang menggunakan ICMP akan di-drop begitu saja. Ini mencakup echo request yang digunakan oleh utilitas ping, yang biasa digunakan oleh para administrator untuk melakukan troubleshooting apakah sebuah host menyala/merespons atau tidak. Tidak bisa menerima echo request, ya jelas saja membuat troubleshooting makin ribet.

Perintah Ping pada server yang masih menolak Echo Request

Lalu, gimana caranya agar Windows kita bisa menerima PING dari host lainnya? Dalam artikel ini, kami akan membeberkan caranya agar Windows dapat merespons perintah PING yang diajukan klien.

Mungkin, bagi yang nggak sabaran mah bilang “kenapa gak dibunuh saja tuh Windows Firewall-nya?”. Buat kami sih, mematikan Windows Firewall justru salah banget, meski Windows Firewall merupakan alat bantu yang sangat dasar sekali sebagai perlindungan komputer. Yang akan kita lakukan sebenarnya adalah mengizinkan yang kita butuhkan saja, dengan tetap menyalakan Firewall…

Caranya:

1. Buka Windows Firewall with Advanced Security di Control Panel\Administrative Tools.

2. Buka Inbound Rules, dan cari di sana “File and printer Sharing (Echo Request – ICMPv4-In)”. Bila Anda menggunakan IPv6, ya gunakan versi ICMPv6 ya…

3. Klik kanan di sana, dan pilih Enable Rule pada menu konteks yang keluar.
Cara mengaktifkan perintah PING

4. You’re done. Silakan coba saja lakukan ping ke alamat server/host yang dimaksud, dan voila, server pun menerimanya. Hehe.
Perintah Ping pada server yang sudah menerima Echo Request

Selamat mencoba…

Windows Phone atau Windows RT? Why Not Both?

Apple pertama kali rilis iOS untuk smartphone iPhone, dan kemudian menggunakannya pada tablet iPad. Google Android pertama kali dirilis untuk smartphone. Dengan rilis Android Honeycomb, Google pun mencoba merambah dunia tablet, sebelum akhirnya disatukan menjadi satu basis pada Ice Cream Sandwich. Nah, akankah Microsoft mengikuti jejak mereka?

Ya, Microsoft baru saja mengucapkan Happy Birthday yang ketiga untuk Windows Phone, dan antarmuka Metro-nya. Namun, ketimbang seperti Apple atau Google yang menyatukan sistem operasinya, Microsoft cenderung mendua–Microsoft punya Windows Phone dan Windows RT, yang seperti kita tahu menggunakan basis yang sama: Windows NT on ARM. Apa strategi Microsoft ke depan? Menggabungkannya menjadi satu platform “Windows Tablet” atau membiarkannya terfragmentasi?

Pangsa pasar sistem operasi Microsoft di pasar mobile computing memang sangat kecil, dibandingkan dengan Google Android dan Apple iOS, padahal Sistem operasi punya Microsoft itu memiliki fitur yang mumpuni untuk menjadi sebuah sistem operasi yang kuat, bila menilik basis kodenya: Windows NT. Namun, eksekusi yang terbilang telat dari Microsoft dengan Windows Phone (baru berusia 3 tahun) dan Windows RT (baru berusia 1 tahun) dengan ekosistem yang terbelah pula membuat orang agak enggan mendekatinya. Microsoft pun merugi 900 juta USD karena ada sisa stock tablet Microsoft Surface RT yang masih terjual.

Banyak analis menilai Microsoft akan menggabungkan Windows Phone dengan Windows RT dan akan membunuh salah satunya, bisa jadi Windows Phone yang akan dibunuh atau Windows RT. Namun, sebagai sistem operasi yang lebih lama, apakah Windows Phone tidak menawarkan nilai yang lebih saat digunakan sebagai sistem operasi untuk tablet? Tentu saja tidak, sebab Windows Phone menawarkan ekosistem aplikasi yang lebih baik daripada Windows RT dan tentunya lebih sederhana dan lebih konsisten.

Windows Phone lebih baik daripada Windows RT, bila dilihat dari ekosistem aplikasinya: Windows Phone Store memiliki lebih banyak aplikasi yang berkualitas daripada Windows Store (yang digunakan oleh Windows RT dan Windows 8.x). Alasannya? Tentu saja lebih banyak pengguna dan pengembang yang mau menulis aplikasi untuk Windows Phone ketimbang Windows RT (dan Windows 8.x) meski memiliki perangkat bantu yang sama. Memang tidak sebanyak Android atau iOS, tapi tetap saja lebih baik daripada Windows RT.

Windows Phone pun lebih sederhana dan konsisten daripada Windows RT. Homescreen (Start screen) dipenuhi dengan informasi yang dibentuk sederhana dalam Live Tile, dan daftar aplikasi ada di sebelah kanan. Pengaturannya pun sederhana dan mudah untuk dioperasikan. Bandingkan dengan Windows RT, karena Windows RT jelas lebih rumit daripada Windows Phone. Yang pasti start screen, meski menawarkan Live Tile, lebih “ribet” daripada Windows Phone, dan tentu saja menawarkan desktop yang hanya bisa digunakan untuk Internet Explorer serta Office RT. Konsistensi Windows Phone pun lebih tinggi untuk bersaing dengan Android dan iOS sebagai sistem operasi untuk tablet, karena Windows RT sebenarnya adalah Windows 8 tanpa dukungan backward compatibility untuk aplikasi Windows yang lama.

Itu sisi baik dari Windows Phone. Lantas, Apakah Windows RT tidak memiliki nilai tambah sebagai sistem operasi tablet?

Tentu saja, sebagai sistem operasi yang digadang sebagai True Tablet OS, Windows RT memiliki fitur yang lebih wah. Multitasking yang jauh lebih baik bahkan dari para pesaing adalah salah satunya. Masing-masing Windows RT pun datang dengan copy Office RT, meski berjalan di dalam desktop, belum menggunakan WinRT API dan antarmuka Metro UI.

Namun, apakah pengguna biasa (yang sebagian besar menggunakan tablet sebagai alat untuk browsing dan main game), peduli dengan apa yang ditawarkan oleh Windows RT? Sepertinya tidak. Lalu, apa yang harus dilakukan Microsoft? Tentu saja menggabungkan keduanya menjadi satu produk yang sama–gabungkan semua kebaikan kedua produk tersebut. Windows RT bisa jadi ditambahi kemampuan sebagai penelepon, dan juga mampu menggunakan aplikasi yang ada pada Windows Phone, sementara Windows Phone mampu menggunakan perangkat dengan layar lebih besar, USB, printer, dan tentunya aplikasi yang ada pada Windows Store.

Menyatukan kedua Application Store seperti ini memang butuh waktu yang tak sebentar, baik dari Microsoft dan juga para developer aplikasi. Microsoft harus menyediakan API yang sama antara Windows Phone dan RT, sementara developer harus mau menulis aplikasinya lagi agar tampak lebih konsisten.

Ada tambahan pikiran? Let me know.

Desktop Class 64-bit Processor di Apple iPhone 5s?

Apple memang baru saja mengumumkan bahwa mereka akan merilis flagship smartphone mereka, Apple iPhone 5s, yang hendak menggantikan Apple iPhone 5 yang sudah dirilis sembilan bulan yang lalu. Seperti biasa, Apple menggaungkan kata inovasi: mereka adalah perusahaan pertama yang menawarkan smartphone berprosesor 64-bit yang mereka sebut “Desktop-class”. Tapi, apakah benar demikian?

Apple memang melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam meningkatkan mikroproseor di dalam SoC A7 yang mereka gunakan di dalam iPhone 5s, dengan membenamkan arsitektur 64-bit di dalamnya, menggantikan arsitektur 32-bit yang sebelumnya telah digunakan di dalam SoC A6 dan sebelumnya. Apa artinya? Tentu saja, secara logika hal ini bisa ditranslasikan menjadi peningkatan performa yang signifikan, mengingat arsitektur 64-bit yang digunakan A7 memiliki lebar bus yang dua kali lebih lebar daripada A6. Namun, arsitektur A7, meskipun sama-sama menggunakan gimmick “64-bit”, belum lah menjadi sama dengan 64-bit yang digunakan di prosesor kelas desktop, jadi, tentu saja hal ini adalah overhype yang dilakukan oleh Apple.

Ada lagi: banyak pengguna awam yang tidak begitu memahami bagaimana arsitektur aras rendah tersebut bekerja, dan tentu saja ada pikiran “Bigger is Better”, maka menggunakan angka yang besar ditranslasikan sebagai sesuati lebih baik. Padahal, yang sebenarnya diunggulkan dari arsitektur 64-bit hanyalah pengalamatan memori RAM yang digunakannya, di mana saat menggunakan arsitektur 32-bit, prosesor tersebut hanya mampu mengalamati hingga 4 gigabyte saja. Bila Anda pernah menggunakan PC dengan RAM lebih dari 4 Gigabyte di atas Windows XP versi 32-bit, maka mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa sistem Anda hanya mampu mengalamati kira-kira 3.5 Gigabyte doang, sementara hal ini tidak akan terjadi bila Anda menggunakan Windows versi 64-bit. Wah, kalau begitu, RAM yang dibenamkan di dalam iPhone 5s bisa lebih besar dong? Yap. Namun, apakah Apple membenamkan memori RAM lebih besar dari 4 Gigabyte di dalam iPhone 5s? Android yang paling kuat saja sekarang hanya dipersenjatai 2 Gigabyte saja. Kalau tidak, kenapa kesannya kok terburu-buru menggunakan arsitektur 64-bit?

Wait… Wait… bukannya di dalam iklannya memori yang digunakan di dalam iPhone 16 Gigabyte, 32 Gigabyte atau 64 Gigabyte? Well, bila Anda memahaminya demikian, maka Apple sukses membius Anda dan membuat Anda salah kaprah mengenai memori RAM (media penyimpanan untuk sistem dan proses) dan memori yang digunakan sebagai storage (media penyimpanan data). Sebenarnya, iPhone 5 yang dirilis sebelumnya hanya memiliki memori RAM 1 Gigabyte saja, bukan 16 GB, 32 GB atau 64 GB. Lantas apakah dalam iPhone 5s ditambahkan menjadi lebih besar dari 4 GB? I doubt that.

Kendala lainnya juga adalah dukungan perangkat lunak. Apakah iOS 7 sistem operasi yang benar-benar 64-bit, seperti halnya Windows x64 atau Linux? Melihat sejarahnya, memang iOS adalah turunan dari Mac OS X, namun hanya dioptimalisasikan untuk digunakan di dalam smartphone dan perangkat iDevice lainnya, dan basis kode yang sama tersebut hanya ada di versi 32-bit saja, dan belum ada 64-bit seperti versi Mac OS X. Lalu, meskipun iOS 7 sudah mendukung 64-bit, apakah aplikasinya juga sudah mendukung—kita tahu bahwa 700000+ aplikasi di Apple App Store adalah 32-bit? Lho, bukannya Windows x64 juga bisa menjalankan aplikasi Windows 32-bit? Ya, dan itu ada sesuatu yang dikorbankan: performa, meski tidak seberapa. Hal ini terjadi karena Windows menjalankan aplikasi 32-bit di dalam sebuah lapisan emulasi (WOW64). Apakah hal yang sama (lapisan emulasi) pula ada di iOS 7? Apakah developer juga harus melakukan kompilasi ulang terhadap aplikasinya agar dapat terus digunakan pada iOS versi baru itu?

Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan dalam transisi kali ini, namun memang pengumuman tentang iPhone memang selalu mengundang sensasi, bahkan semenjak mendiang Steve Jobs masih ada. Mereka menggunakan kata-kata “magic”, “innovation”, dan “first” sebagai marketing gimmick. Namun bagi saya, prosesor 64-bit sekelas desktop di dalam smartphone hanyalah sebuah gimmick semata.

Bagaimana Sih Caranya: Instalasi Windows 7 atau Windows 8 melalui UEFI?

Question:

Saya membeli PC rakitan baru yang berteknologi UEFI. Pertanyaan saya, gimana sih caranya instalasi sistem operasi Windows 7 atau Windows 8 melalui UEFI? Terima kasih atas jawabannya.

via e-Mail

Answer:

PC yang baru, dalam hal ini adalah motherboard PC yang dimanufaktur pada tahun 2012 ke atas sudah memiliki fitur Unified Extensible Firmware Interface (UEFI) sebagai pengganti sistem Basic Input Output System (BIOS) sebagai antarmuka pertama komputer sebelum sistem operasi mengambil alih kontrol secara keseluruhan.

Namanya juga pengganti BIOS, yang pasti ada beberapa keunggulan yang ditawarkan oleh UEFI dibandingkan dengan BIOS biasa, seperti:

1. Tampilan Setup yang berbasis grafis pada UEFI daripada sebelumnya yang masih berbasis teks.

asrock-uefi-setup-storage

2. Dukungan sistem 64-bit yang mampu mengalamati lebih banyak memori.

3. Dukungan terhadap standar baru yang lebih aman dari serangan boot-code malware, melalui fitur SecureBoot. Yeah, meski memang SecureBoot ini masih pro-dan-kontra.

4. Dukungan terhadap hard disk lebih besar daripada 3 Terabyte.

5. Proses booting yang lebih cepat.

…dan lain-lain yang bisa Anda lihat di situs uefi.org .

Nah, melalui Windows 7, Microsoft mulai mendukung UEFI pada sistem Intel x86-64, setelah sebelumnya hanya diaplikasikan pada sistem berarsitektur Intel Itanium (IA-64). Namun dengan Windows 8, Microsoft hendak meningkatkan dukungannya terhadap UEFI dengan mengaktifkan fitur-fitur baru yang lebih bermanfaat bagi pengguna, baik konsumen ataupun pengguna korporat. Microsoft pun mendesain PC yang didesain khusus untuk Windows 8 (contohnya Microsoft Surface Pro) dengan menggunakan standar UEFI. Sayangnya, instalasi Windows di sistem UEFI tidak semudah saat kita menggunakan BIOS, karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Jadi, instalasi Windows susah di UEFI? Nope. Hanya saja memang tidak lebih mudah daripada instalasi Windows melalui BIOS. Windows 8 sendiri bisa berjalan dengan baik pada sistem yang masih menggunakan BIOS, dalam modus yang dikenal dengan “Legacy”. Namun, bila kita membeli perangkat keras baru dan hendak mengaktifkan seluruh fitur yang ditawarkan, maka instalasi melalui UEFI sepertinya menjadi kewajiban.

Sebetulnya, PC baru pun menawarkan fitur yang disebut dengan “Compatibility Support Module” atau dalam beberapa motherboard menuliskannya sebagai CSM. Fungsinya adalah untuk meniru BIOS dan agar selalu cocok dengan perangkat keras yang kita instalasikan di dalam sistem. Tentu saja, bila perangkat keras yang Anda gunakan seluruhnya adalah perangkat keras modern, Anda bisa menonaktifkannya agar sistem Anda masuk ke dalam modus UEFI secara langsung tanpa harus menggunakan topeng sebagai BIOS.

asrock-uefi-setup

Oh ya, sistem UEFI hanya didukung oleh sistem operasi berbasis Windows x64 (64-bit) saja, dan tidak pada sistem x86 (32-bit). Jadi, bila Anda menggunakan Windows 32-bit, maka sebaiknya CSM dinyalakan, agar tidak terjadi ketidakcocokan antara perangkat dan UEFI. Nah, saat UEFI dinyalakan dan instalasi Windows 8 berlangsung dan terdapat masalah, sebetulnya emulasi BIOS melalui CSM ini akan secara otomatis diaktifkan, dan PC yang kita gunakan pun akan dianggap oleh sistem sebagai PC dengan konfigurasi yang lama. Sebaliknya, bila instalasi Windows dapat dilalui tanpa masalah, maka sebaiknya CSM dinonaktifkan agar meningkatkan kecepatan dalam proses booting.

Okay, enough with the chit-chat. Let’s start…

Bila kita menggunakan medium USB Flash Drive, maka kita harus menggunakan format GPT untuk flash drive tersebut dengan menggunakan sistem berkas FAT32, namun bila kita menggunakan medium DVD sebagai alat instalasi, maka tidak ada yang harus kita lakukan, kecuali untuk mengaktifkan Boot Sequence DVD Drive sebagai urutan pertama.

Inti dari instalasi Windows melalui UEFI adalah bahwa kita menggunakan skema baru penataan hard disk drive, yakni dari Master Boot Record (MBR) ke GUID Partition Table (GPT). Nah, skema partisi baru ini adalah hal yang wajib dilakukan dalam membuat Windows 8 dapat digunakan sebagai sistem operasi utama dalam modus UEFI (bukan dalam modus kompatibilitas melalui CSM). Karenanya, kita harus mengubah (meng-convert) hard disk atau Solid State Drive kita dari skema MBR (Master Boot Record) menjadi skema GUID Partition Table yang sepenuhnya didukung oleh sistem UEFI. Sebenarnya, standar UEFI sendiri mendukung booting melalui MBR, namun Microsoft tidak mengizinkannya.

So, how we do it?

1. Pada saat masuk layar setup Windows 7 atau Windows 8, pilih Advanced, dan pilihlah menu Command Prompt.

2. Pada jendela command prompt, ketikkan DISKPART untuk menjalankan program DISKPART.

3. Bila Anda memiliki lebih dari satu drive, silakan pilih hard disk atau Solid State Drive mana yang hendak Anda gunakan sebagai target instalasi, dengan mengetikkan:.

list disk
select disk <disk number>

Anda bisa lihat di sana nomor berapa hard disk drive atau solid state drive Anda diberi oleh sistem. Namun, bila Anda hanya memiliki satu buah drive, maka gunakan

select disk 0

4. Untuk mengubah skema partisi dari MBR menjadi GPT gunakan perintah

convert gpt

Hati-hati:
Program DISKPART ini hanya ditujukan untuk digunakan oleh para profesional. Sebaiknya, Anda berhati-hati melakukannya karena saat salah, bisa jadi data dan informasi yang ada di dalam hard disk atau solid state drive Anda lenyap.

5. Restart PC dan ulangi Setup kembali. Kini, Windows 8 dan Windows 7 Anda pun dapat diinstalasikan dalam modus UEFI tanpa kompatibilitas.

Semoga membantu.

Bagaimana Sih Caranya: Mengaktifkan AMD Catalyst Control Center dalam Windows Server 2008 R2 dan 2012

Question:

Demi pekerjaan rendering 3D, Saya menggunakan sistem operasi Microsoft Windows Server 2008 R2 sebagai workstation kerja saya, mengingat saya menggunakan workstation dual-socket processor, yang tidak didukung Windows 7. Sebagai pelengkap, saya menggunakan 3 kartu GPU AMD Radeon 7950 dalam modus Crossfire. Namun sayangnya, beberapa fitur  justru tidak dapat digunakan, sebab AMD Catalyst Control Center melaporkan bahwa perangkat keras yang saya gunakan tidak didukung. Padahal, saya sudah menggunakan driver yang paling baru. Tolong bantu saya bagaimana cara mengaktifkan GPU saya di Windows Server 2008 R2, sebab sekarang saya hanya menggunakan prosesor saja tanpa akselerasi dari GPU. Terima kasih.

via e-mail.

AMD-Graphics-Workaround-00

Answer

AMD Catalyst Control Center memang memiliki sebuah keluhan yang banyak dirasakan oleh pengguna, salah satunya adalah dukungan terhadap Windows Server. Well, sebenarnya, perangkat GPU masih didukung oleh driver, hanya saja, ada beberapa yang justru dinonaktifkan oleh AMD dikarenakan kemungkinan nanti ada masalah stabilitas dan kompatibilitas yang justru harus ditingkatkan untuk platform server. Yang jelas, mereka juga nggak mau pangsa pasar AMD FirePro dimakan sama versi gaming-nya.

AMD-Graphics-Workaround-001

So, bagaimana cara kita mengaktifkannya? Tentu saja dengan menggunakan registry editor untuk menyunting registry:

1. Buka Registry Editor dengan menjalankan “Regedit.exe” atau “Regedt32.exe” dari menu Run.

2. Buka kunci “HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Video“, dan di sana ada beberapa subkey yang berisi GUID (Globally Unique Identifier) untuk GPU yang Anda gunakan. Silakan lihat satu per satu GUID tersebut. Pada sistem sampel yang saya gunakan (AMD Radeon 4250 onboard dari motherboard 880G), adanya di key “{387D92CB-A328-4868-B5C5-0592788F0A7D}“. Pada sistem Anda jelas berbeda dari saya, karena ini adalah GUID.

3. Silakan lihat subkey “0000“, dan cari entri Acceleration.Level, bertipe DWORD. Bila nilainya 4, 3, 2, atau 1, ganti dengan 0.

AMD-Graphics-Workaround-01

4. Restart Workstation Anda. Pada sistem sampel yang saya gunakan, AMD Catalyst Control Center pun dapat mendeteksi GPU kembali.

AMD-Graphics-Workaround-002

Semoga membantu

Kenapa sih: Aplikasi Windows Store nggak jalan sebagai Administrator?

Question:

Saya baru saja menggunakan sistem operasi Microsoft Windows 8. Seperti biasa, saya mengaktifkan account Administrator yang biasanya dimatikan oleh Windows, dan tentu saja saya beri password demi keamanan. Namun, ada yang aneh dengan Windows 8 yang saya gunakan, aplikasi Metro nggak bisa dijalanankan sebagai administrator, padahal seorang administrator jelas “dewa”-nya komputer berbasis Windows. Kenapa hal ini bisa terjadi? Terima kasih jawabannya.

Answer:

Alasannya sederhana: keamanan. Dan, seperti yang Anda duga, hal ini disebabkan oleh User Account Control.

Memang aplikasi Windows Store atau dulu dikenal sebagai Metro, telah menggunakan metode sandboxing untuk meningkatkan keamanan, tapi para desainer Microsoft mungkin merasakan bahwa Administrator tidak perlu melakukan login untuk menjalankan aplikasi Windows Store. Bagi beberapa orang, hal ini menjengkelkan, khususnya bagi mereka yang menggunakan Windows Server 2012—versi Server untuk Windows 8.

Namun, solusinya pun ada, yakni Anda harus menyunting registry Windows Anda.

1. Jalankan Registry Editor dengan mengetikkan “regedit.exe” pada kotak dialog Run (dapat diraih menggunakan kombinasi tombol Windows + R.

2. Pada jendela Registry Editor, buka node
HKEY_LOCAL_MACHINE\
  SOFTWARE\
    Microsoft\
      Windows\
        CurrentVersion\
          Policies\
            System

3. Ganti value “FilterAdministratorToken” dari 0 menjadi 1, dan restart komputer Anda.

4. Aplikasi Windows Store pun akan dapat berjalan di Windows 8/Windows Server 2012 sebagai Administrator.

Semoga membantu. icon smile Kenapa sih: Aplikasi Windows Store nggak jalan sebagai Administrator?

Pranala luar:
http://msdn.microsoft.com/en-us/library/cc232760.aspx

Beberapa Alasan mengapa menyewa layanan Cloud Computing

Komputasi awan, alias cloud computing menjadi sebuah tren di dunia teknologi informasi sekarang-sekarang ini. Beberapa perusahaan pun berlomba-lomba untuk mengimplementasikannya di dalam organisasinya. Namun, mengapa sih sebagian besar mereka mengimplementasikan cloud computing dengan menyewanya dari penyedia layanan cloud computing?

Alasan 1: Biaya

Dahulu, banyak organisasi mengimplementasikan infrastruktur teknologi informasi dan data center yang dibangun sendiri, mulai dari perangkat keras, perangkat lunak, bandwidth, dan tentu saja aliran listrik. Coba saja hitung satu per satu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur tersebut. Yang pasti, cost-nya cukup tinggi dan itu sebabnya mengapa perusahaan banyak memproyeksikan investasi anggaran untuk infrastruktur.

Namun, dengan menggunakan cloud computing, khususnya dari vendor tertentu (melakukan outsourcing), kita pun dapat menghemat biaya akuisisi teknologi, dengan hanya membayar uang bulanan saja selama menggunakan cloud computing yang dipakai.

Alasan 2: Keamanan

Perusahaan cenderung menginginkan apa yang mereka investasikan di dalam infrastruktur teknologi informasi aman dari ancaman, baik ancaman fisik ataupun ancaman secara online. Akhirnya, mereka pun merekrut orang-orang dan konsultan yang mumpuni di bidang keamanan cloud. Tapi sekali lagi, perekrutan tersebut tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit, apalagi bila memang perusahaan menginginkan keamanan tingkat tinggi setinggi level Windows Azure, Amazon atau Google dalam mengimplementasikan infrastruktur cloud computing-nya.

Well, dengan menyewa layanan cloud computing, khususnya dari vendor yang terkenal mengimplementasikan keamanan yang tinggi, maka masalah keamanan pun menjadi tanggung jawab mereka. Memang kita mengandalkan perusahaan penyedia layanan cloud computing, namun yang pasti, biaya yang telah kita bayarkan sudah mencakup keamanan data yang kita simpan di cloud.

Alasan 3: Keandalan

Apa yang terjadi saat satu mesin dalam infrastruktur mengalami kegagalan atau kerusakan? Pastinya, Down time! Produktivitas pun terganggu, dan mungkin saja menjadikan kerugian yang tak sedikit jumlahnya.

Mayoritas penyedia layanan cloud computing menggunakan mesin virtual yang tentunya di-cluster (diatur sebagai failover-cluster) yang mampu menjamin layanan tersebut masih tersedia, bahkan saat mesin utama mengalami kegagalan. Bahkan beberapa layanan menggunakan beberapa lokasi data center sebagai cadangan mana kala data center utama mengalami kegagalan. Selama koneksi dan akses dari organisasi ke cloud masih terhubung, maka dipastikan layanan masih dapat digunakan sehingga produktivitas pun masih tetap terjaga.

Alasan 4: Staf

Sebagian besar organisasi menugaskan beberapa orang staf untuk bekerja dalam merawat infrastruktur teknologi informasi. Yang pasti, staf tersebut pun harus dilatih sedemikian rupa agar mampu menggunakan teknologi terbaru yang digunakan oleh organisasi. Organisasi bisa saja menggunakan jasa orang yang sudah tersertifikasi, namun dengan harga yang cukup mahal.

Well, dengan menyewa layanan Cloud Computing, staf infrastruktur teknologi informasi pun bisa dikurangi secara drastis dan kita pun bisa berfokus pada bagaimana model bisnis, bukan pada bagaimana infrastruktur berjalan. Memang kita tetap masih membutuhkan orang untuk bekerja di dalam organisasi kita, namun dibandingkan dengan membangun infrastruktur sendiri, akan lebih meringankan beban perusahaan.

Alasan 5: Daya Listrik

Berapa banyak daya yang dibutuhkan untuk menyalakan satu data center? Puluhan kiloWatt yang pasti, dan tentunya hal itu berbanding dengan jumlah server yang ada di dalam data center organisasi. Berapa banyak biaya yang dikeluarkan hanya untuk listrik? Buanyak. Lalu, apakah perusahaan listrik yang kita gunakan menjamin kestabilan listrik? Apakah pula kita menggunakan cadangan catu daya mana kala aliran listrik utama mengalami kegagalan?

Dengan menyewa layanan cloud computing, hal tersebut menjadi sepenuhnya tanggung jawab penyedia layanan. Tidak perlu dipusingkan lagi dengan tagihan listrik yang membengkak saat menambah server, akibat server yang lama kekurangan kapasitas prosesnya. Dan, dengan menggunakan mesin virtual, mereka pun mampu menghemat daya untuk setiap server-nya.

Alasan 6: Dukungan

Apa yang organisasi lakukan mana kala sebuah server mengalami kegagalan? Tentu langkah pertama adalah mencari bala bantuan dan dukungan sebanyak-banyaknya untuk melakukan troubleshooting. Namun, saat bala bantuan dan dukungan tak kunjung datang, dan staff pun mengalami frustrasi, organisasi pun menjadi tak bisa lagi untuk mempertahankan kinerjanya.

Yang pasti, dukungan staf ahli dari pihak penyedia layanan cloud computing memungkinkan kita untuk lebih berfokus pada model bisnis yang kita kerjakan, sementara mereka mengerjakan tugas mereka.

Alasan 7: Hemat tempat

Berapa harga tanah sekarang? Di kota-kota besar, harga tanah sangatlah tinggi. Menyewa sebuah kantor sebagai tempat usaha menjadi satu hal yang perlu dipertimbangkan. Lalu, bagaimana dengan infrastruktur teknologi informasinya, dengan banyak staf dan pengguna? Tentunya akan sangat memakan banyak tempat. Belum lagi dengan beberapa kebutuhan lainnya seperti kebutuhan pendinginan (cooling) dan generator cadangan daya (genset).

Alasan 8: Aplikasi

Beberapa layanan cloud tidak hanya menyediakan layanan sinkronisasi, storage dan infrastruktur semata. Beberapa bahkan menyediakan aplikasi tambahan seperti halnya Google, Zoho, dan tentunya Amazon. Tentu hal ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi layanan cloud computing, apalagi saat kita memang membutuhkannya. Buy one service, get one free app.

Alasan 9: Mobilitas

Pernahkah sebuah organisasi melakukan relokasi tempat usaha? Pastinya sering, apalagi perusahaan yang selalu meningkat progress-nya. Namun, apakah infrastruktur teknologi informasinya akan ditinggal di tempat yang lama? Tentu tidak, bukan? Pasti dibawa, karena itu adalah salah satu asset yang dimiliki perusahaan.

Nah, dengan menggunakan cloud computing, mobilitas pun menjadi tidak masalah. Beberapa layanan bahkan menyediakan layanan untuk pengguna mobile, seperti Google Apps, Office 365, dan Zoho, yang memanjakan para pengguna smartphone agar dapat bekerja dari manapun mereka berada. Ingat, data kita ada di cloud, bukan?


Well, itu 9 alasan yang bagi saya mungkin menjadi sebab mengapa beberapa organisasi menyewa layanan cloud computing. Bila Anda memiliki tambahan lebih, Anda bisa menambahkannya pada komentar di bawah, dan saya akan menambahkannya.

Meski cloud computing masih menyisakan pro dan kontra, saran dari saya adalah tetap gunakan apa yang menurut Anda dan organisasi Anda terbaik untuk diimplementasikan. Ambil keputusan yang bijaksana sebelum memindahkan infrastruktur Anda ke dalam cloud computing yang Anda sewa.

Semoga tulisan ini membantu…

Bagaimana sih caranya: Memperbaiki Shortcut Overlay Windows?

Question:

Saya mau tanya bagaimana cara mengatasi gambar yang di depan shortcut pada desktop seperti yang saya kirim pada gambar di bawah ini?
Mengatasi gambar yang di depan shortcut

–via e-mail

Answer:

Sepertinya, ada masalah dengan konfigurasi shortcut pada komputer Anda. Biasanya hal ini bisa dilakukan melalui tool seperti TweakUI, TuneUp Utilities atau utilitas lainnya. Konfigurasi shortcut yang dimaksud adalah “Shortcut Overlay“, yang ternyata pada sistem Windows yang Anda gunakan justru tidak ditemukan (salah konfigurasinya atau berkas icon yang dituju ternyata mengalami kegagalan untuk dimuat oleh sistem—biasanya hal ini terjadi karena kurang memori atau shell icon cache yang mengalami kerusakan).

Secara default, shortcut overlay yang digunakan oleh Windows adalah tanda panah “shortcut”. Namun, kita juga bisa mengubahnya dengan menyunting registry (beberapa utilitas sebenarnya mengubah nilai ini menjadi yang kita inginkan). Konfigurasinya ada di registry Windows dengan alamat di:
HKEY_LOCAL_MACHINE\
  Software\
    Microsoft\
      Windows\
        CurrentVersion\
            Explorer\
              Shell Icons
,
nah di sana ada entri namanya “29” (tanpa tanda kutip) bertipe data String. Hapus saja entri tersebut dan restart komputer yang Anda gunakan—hal ini dikarenakan kita menyunting hive yang berada di HKLM. Atau, bisa juga Anda menggunakan berkas registry yang sudah saya impor.

Semoga membantu.