Beberapa hal yang bila dihindari mampu meningkatkan kebahagiaan hidup

Hidup dengan bahagia. Siapa yang tidak menginginkannya. Manusia pun cenderung mencari kebahagiaan di dunia (dan tentunya di akhirat). Tentu saja, keinginan untuk meraihnya pastilah mendapatkan cobaan dan tantangan. Namun, ada beberapa hal yang bisa kita tinggalkan dan mampu meningkatkan kebahagiaan hidup. Apa saja? Mari kita lihat.

1. Hindari menyalahkan orang lain

Manusia pastilah memiliki dan melakukan kesalahan. Saat kita jadi atasan, seorang karyawan kadang tidak mampu memenuhi harapan atasannya. Namun, saat itu terjadi, “menyalahkan” adalah hal yang paling sering kita lakukan, padahal hal tersebut bisa jadi sumbernya ada di dalam diri kita sendiri. Bisa jadi karyawan tersebut belum memiliki pengalaman yang cukup untuk tugasnya, dan adalah tugas kita untuk meningkatkan pengalamannya dengan training dan pelatihan. Banyak lah sebabnya mengapa karyawan kita seperti itu, yang pasti melakukan kesalahan bukanlah sesuatu yang membuat kita bodoh.

Hindari menyalahkan orang lain” menjadi jargonnya. Apa maksudnya? Tentu saja, mengambil tanggung jawab sendiri. Terkesan membebani diri sendiri? Bagi saya tidak, bahkan justru memberitahu kita agar kita lebih memperhatikan mereka lain waktu dan tentu saja lebih cerdas dalam bekerja di lain kesempatan.

Lebih cerdas, tentu saja, lebih bahagia.

2. Hindari mencari perhatian dengan materi

Apa yang membuat kita disukai sesama manusia? Yang pasti, bukanlah apa yang melekat di badan kita, bukan pula yang kita kendarai, bukan pula jabatan kita. Memang ada orang yang mendekati kita hanya karena apa yang kita miliki, dan mereka cenderung bersifat sycophant, dan apapun yang mereka lakukan bersama kita didasari ketidakmurinan perasaan. Ketidakmurnian perasaan mampu membunuh hubungan antar-manusia, dan tentunya membuat kita kurang bahagia, sebab mana kala kita sudah tidak memiliki materi yang disukai, para sycophant tersebut akan hilang di dekat kita.

Punya jabatan dan posisi itu penting. Punya uang juga penting. Namun, materi, jabatan dan uang yang melekat di badan kita bukanlah sesuatu yang diunggulkan untuk memperoleh hubungan antar-manusia. Adalah kemurnian perasaan yang membuat hubungan tersebut baik. Dan tentunya, hubungan baik akan mendatangkan kebahagiaan.

3. Hindari mengeluh

Manusia memang diciptakan dengan sifat keluh-kesah. Namun, apapun yang kita ucapkan memiliki kekuatan, khususnya terhadap diri kita. Saat mengeluhkan masalah kita, maka kita pun akan merasakan sesuatu yang berat. Dengan mengeluh, bukannya merasa lebih baik, eeh, malah lebih buruk. Saat ada sesuatu yang kurang baik terjadi, sebaiknya jangan buang waktu dengan mengeluhkannya. Lakukan apa yang bisa dilakukan untuk membuat situasinya lebih baik. Why wasting time? Fix it now, if we can. Yang pasti, bila ada masalah makin menumpuk, seseorang harus melakukan sesuatu agar beban hidup kita tidak mengganggu kebahagiaan hidup kita. Siapa lagi kalau bukan diri kita yang memulai, dan memulainya bukan dengan keluhan tapi tindakan.

Kurangi berbicara tenang apa yang salah, dan perbanyak tentang apa yang membuat situasi lebih baik. Kurangi berbicara masalah, dan perbanyak berpikir solusi. Bahkan saat kita berbicara dengan diri kita. Apalagi saat kita punya sahabat, orang tua, mentor, atau guru untuk berbagi. Mereka akan meringankan beban kita, dengan sama-sama tidak membiarkan keluhan merusak kebahagiaan.

4. Hindari Mengutuk diri

Masa lalu adalah hal yang sangat berguna. Kita bisa belajar dari pengalaman dan kesalahan yang kita peroleh di masa lalu, atau bahkan kesalahan yang orang lain peroleh. Lalu, setelah mempelajari masa lalu, maka tinggalkan. Emangnya gampang?? Well, nggak gampang. Dan itu tergantung pada seberapa fokus kita menatap hari ini dan masa depan. Saat sesuatu hal yang kurang baik terjadi pada diri kita, pikirkan bahwa hal tersebut adalah sebuah kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang belum pernah kita ketahui dan pelajari sebelumnya. Dan, saat sesuatu hal yang kurang baik terjadi pada orang lain atau saat orang lain melakukan kesalahan, anggaplah hal tersebut sebagai kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih bisa memaafkan, dan tentu saja lebih bisa memahami.

Hidup itu serangkaian pelatihan. Latihan. Latihan, dan Latihan. Masa lalu adalah tempatnya latihan itu. Apapun yang kita lakukan, jelas kita butuh latihan. Ambil pengalaman seperlunya dari masa lalu, dan let it go, and make sure everything goes right.

5. Hindari ketakutan berlebih

Manusia wajar punya rasa takut, khususnya takut pada hal yang mungkin terjadi atau bahkan yang tidak mungkin terjadi; takut pada hal yang tak bisa kita ubah (seperti ajal); takut pada hal yang tak bisa kita lakukan, atau bahkan takut pada bagaimana orang melihat kita. Menjadi bimbang dan galau pun jadi mudah sekali kita lakukan. Menunggu, dan menunggu saat yang tepat pun menjadi hal yang kita lakukan secara antisipatif untuk mencari alternatif, dan tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat.

Wow, ketakutan berlebih ternyata menahan kemampuan sebenarnya kita. Apapun yang kita rencanakan, apapun yang kita idamkan, apapun yang kita impikan, mulailah dari sekarang, dari apa yang kita bisa. Segala sesuatu dimulai dari langkah awal, dan memang langkah awal adalah hal yang paling berat dilakukan. Bayi akan merasakan kesulitan untuk berjalan pada langkah pertamanya. Burung akan merasakan kesulitan untuk terbang pada kepakan sayap pertamanya. Begitu pun kita. Saat kita sudah menghindari ketakutan berlebih, maka kesuksesan bisa kita raih. Do something, do anything, now, today. Once tomorrow comes, today is lost forever.


Semoga kita mampu meraih kebahagiaan…

Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi…

Gapai sukses dengan pengalaman

Andaikan dulu saya sudah tahu apa yang saya tahu sekarang, pasti saya tidak akan begini“. Ya, kalimat bernada penyesalan, sering sekali bergaung di telinga kita, mengingat penyesalan selalu datang lebih lambat daripada kesadaran kita untuk menggapainya.

Generasi muda sekarang jelas memiliki banyak kesempatan yang bisa dijajal dan tentu saja tantangan yang bisa dihadapi. Tentu semua itu untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai manusia, menuju self-esteem. Generasi sekarang yang tumbuh dengan teknologi canggih, mungkin akan cocok dengan dunia yang sekarang saling terhubung. Dan, di era revolusi digital seperti sekarang ini, mereka sedang gemar melakukannya dan banyak juga yang telah meraup untung.

Di lain pihak, dunia sedang bergejolak. Masalah sosial, budaya, ekonomi hingga politik. Ya, setiap hari kita melihat hal ini terus berjalan, jadi hal ini bukanlah hal baru, namun tetap saja menjadi tantangan kita. Apa yang terjadi adalah, kita berhadapan dengan terlalu banyak informasi, kita berhadapan dengan terlalu banyak pilihan, kita berhadapan dengan terlalu banyak hal yang mudah mengganggu fokus kita. Bila generasi dahulu berjuang dengan kesederhanaan, maka perjuangan generasi sekarang lebih kompleks.

Entrepreneur muda, jelaslah harus bisa menghadapi segalanya sesuai dengan keadaan. Dan, tak ada guru yang lebih hebat daripada pengalaman yang didapat sendiri dan tentu saja dari orang lain yang telah merasakannya. Di sini, saya pribadi telah merangkum beberapa pengalaman yang saya dapatkan dari orang-orang yang dekat dengan saya, yang mungkin bisa saja berguna bagi siapa pun.

1. Bila Anda hendak meraih kesuksesan yang besar, maka usaha untuk mencapainya juga besar. Bila kita sadar bahwa tujuan hidup kita memiliki kecenderungan biasa saja, maka mungkin saja kita bisa menjalani hidup dengan mudah tanpa usaha yang besar. Namun, tentu saja, kehidupan kita pun masih “biasa saja”. Ingin tangkapan ikan yang besar? Siapkan jala yang besar pula.

2. Berani ambil risiko, dengan mempertimbangkan keadaan. Kesuksesan yang kita raih dalam kehidupan berbisnis dan berkarier merupakan sebuah hasil yang kita peroleh saat kita mempertaruhkan hidup dengan mengambil sebuah kesempatan yang memiliki risikonya.

3. Perluaslah pengalaman. Seperti telah disebutkan sebelumnya, pengalaman adalah guru yang hebat. Saat pengalaman kita luas, maka luas pulalah kesempatan kita untuk lebih bisa menggapai kesuksesan.

4. Hidup bagaikan lari maraton, bukan lari sprin. Apa bedanya, sama-sama lari kan? Lari maraton lebih lama dan lebih panjang lintasannya daripada lari sprin. Dalam lari maraton, saat banyak persaingan, maka akan lebih baik kita menggenjot kemampuan kita hingga kita lebih dekat dengan garis finish. Namun, saat sudah jarang persaingan, you could do lesser. Selain itu, semakin besar tujuan kita, semakin “gila” strategi yang kita gunakan, semakin lama waktu yang kita tempuh, maka semakin besar pula prestasi yang diraih.

5. Ingat selalu prinsip keseimbangan dan kesetaraan. Ingat Hukum Aksi-Reaksi Newton? Setiap gaya yang kita keluarkan, maka akan muncul reaksi yang berlawanan dari aksi kita yang membuatnya seimbang. Ingat keseimbangan reaksi kimia? Ya, semuanya haruslah seimbang. Dalam ekonomi pun demikian: ada pemasukan ada pula pengeluaran; ada permintaan ada pula pemberian. Begitu pula dengan kehidupan. Hukum kausalitas dan sebab akibat akan selalu menaungi kita, dan bisa saja mempengaruhi kehidupan kita. Tanpa melakukan apapun, kita tak akan pernah mendapat apapun sebagai balasan.

6. “Why’s so serious on yourself?”. Sebagai anak muda, pastilah kita memiliki ego yang sangat tinggi. Kita merasa, bahwa kitalah pusat alam semesta, atau setidaknya dunia kita. Cara pandang tersebut memang penting untuk keselamatan kita. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, cara pandang tersebut justru kurang bagus dan bahkan sering mendatangkan masalah. Pendewasaan merupakan pengembangan empati bagi orang lain, dengan memahami kebutuhan dan keinginan orang lain, dan mengetahui apa yang membuat mereka termotivasi.

7. Tidak membatasi diri dengan asumsi yang datang dari pengalaman yang masih terbatas. Darah muda memang mudah untuk bergejolak. Kita cenderung mudah untuk mengambil keputusan bahkan dari fakta yang terbatas, atau lebih parah lagi, saat kita mengambil keputusan dari asumsi belaka. Selalu berpikir terbuka, dan pastinya ambil banyak-banyak pengalaman untuk mengganti asumsi kita yang membatasi.

8. Kesuksesan sesungguhnya terjadi di dunia nyata. Sebagai orang yang terhembus angin teknologi canggih, anak muda jelas mengenal Internet, dan mungkin memahami Internet sebagai lahan bisnis. Jejaring sosial pun muncul di mana-mana untuk menghubungkan kita dengan siapapun yang kita inginkan. Memang bisa saja kita menghasilkan uang dengan cara seperti itu, namun yang pasti kesuksesan sesungguhnya terjadi di dunia nyata saat kita mengembangkan relasi dengan orang yang nyata pula.

9. Yakin bahwa segalanya bakal bekerja dengan baik. Ya, keyakinan menjadi sumber motivasi kita untuk meraih kesuksesan. Keyakinan terhadap apa? Apapun yang kita yakini :). Mendiang Steve Jobs pernah berbicara: “You have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something–your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life. The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle.”

Well, itulah 9 hal yang saya dapatkan selama beberapa hari berada di kalangan entrepreneur muda. Satu hal lagi, pengalaman-pengalaman dan conventional wisdom seperti ini memang banyak sekali bertebaran. Namun, semua itu tak akan ada hasilnya tanpa dipraktikkan. Go ahead, and Never look back…

Allâhu a`lamu bi-s-Shawâbi…