Windows Phone atau Windows RT? Why Not Both?

Apple pertama kali rilis iOS untuk smartphone iPhone, dan kemudian menggunakannya pada tablet iPad. Google Android pertama kali dirilis untuk smartphone. Dengan rilis Android Honeycomb, Google pun mencoba merambah dunia tablet, sebelum akhirnya disatukan menjadi satu basis pada Ice Cream Sandwich. Nah, akankah Microsoft mengikuti jejak mereka?

Ya, Microsoft baru saja mengucapkan Happy Birthday yang ketiga untuk Windows Phone, dan antarmuka Metro-nya. Namun, ketimbang seperti Apple atau Google yang menyatukan sistem operasinya, Microsoft cenderung mendua–Microsoft punya Windows Phone dan Windows RT, yang seperti kita tahu menggunakan basis yang sama: Windows NT on ARM. Apa strategi Microsoft ke depan? Menggabungkannya menjadi satu platform “Windows Tablet” atau membiarkannya terfragmentasi?

Pangsa pasar sistem operasi Microsoft di pasar mobile computing memang sangat kecil, dibandingkan dengan Google Android dan Apple iOS, padahal Sistem operasi punya Microsoft itu memiliki fitur yang mumpuni untuk menjadi sebuah sistem operasi yang kuat, bila menilik basis kodenya: Windows NT. Namun, eksekusi yang terbilang telat dari Microsoft dengan Windows Phone (baru berusia 3 tahun) dan Windows RT (baru berusia 1 tahun) dengan ekosistem yang terbelah pula membuat orang agak enggan mendekatinya. Microsoft pun merugi 900 juta USD karena ada sisa stock tablet Microsoft Surface RT yang masih terjual.

Banyak analis menilai Microsoft akan menggabungkan Windows Phone dengan Windows RT dan akan membunuh salah satunya, bisa jadi Windows Phone yang akan dibunuh atau Windows RT. Namun, sebagai sistem operasi yang lebih lama, apakah Windows Phone tidak menawarkan nilai yang lebih saat digunakan sebagai sistem operasi untuk tablet? Tentu saja tidak, sebab Windows Phone menawarkan ekosistem aplikasi yang lebih baik daripada Windows RT dan tentunya lebih sederhana dan lebih konsisten.

Windows Phone lebih baik daripada Windows RT, bila dilihat dari ekosistem aplikasinya: Windows Phone Store memiliki lebih banyak aplikasi yang berkualitas daripada Windows Store (yang digunakan oleh Windows RT dan Windows 8.x). Alasannya? Tentu saja lebih banyak pengguna dan pengembang yang mau menulis aplikasi untuk Windows Phone ketimbang Windows RT (dan Windows 8.x) meski memiliki perangkat bantu yang sama. Memang tidak sebanyak Android atau iOS, tapi tetap saja lebih baik daripada Windows RT.

Windows Phone pun lebih sederhana dan konsisten daripada Windows RT. Homescreen (Start screen) dipenuhi dengan informasi yang dibentuk sederhana dalam Live Tile, dan daftar aplikasi ada di sebelah kanan. Pengaturannya pun sederhana dan mudah untuk dioperasikan. Bandingkan dengan Windows RT, karena Windows RT jelas lebih rumit daripada Windows Phone. Yang pasti start screen, meski menawarkan Live Tile, lebih “ribet” daripada Windows Phone, dan tentu saja menawarkan desktop yang hanya bisa digunakan untuk Internet Explorer serta Office RT. Konsistensi Windows Phone pun lebih tinggi untuk bersaing dengan Android dan iOS sebagai sistem operasi untuk tablet, karena Windows RT sebenarnya adalah Windows 8 tanpa dukungan backward compatibility untuk aplikasi Windows yang lama.

Itu sisi baik dari Windows Phone. Lantas, Apakah Windows RT tidak memiliki nilai tambah sebagai sistem operasi tablet?

Tentu saja, sebagai sistem operasi yang digadang sebagai True Tablet OS, Windows RT memiliki fitur yang lebih wah. Multitasking yang jauh lebih baik bahkan dari para pesaing adalah salah satunya. Masing-masing Windows RT pun datang dengan copy Office RT, meski berjalan di dalam desktop, belum menggunakan WinRT API dan antarmuka Metro UI.

Namun, apakah pengguna biasa (yang sebagian besar menggunakan tablet sebagai alat untuk browsing dan main game), peduli dengan apa yang ditawarkan oleh Windows RT? Sepertinya tidak. Lalu, apa yang harus dilakukan Microsoft? Tentu saja menggabungkan keduanya menjadi satu produk yang sama–gabungkan semua kebaikan kedua produk tersebut. Windows RT bisa jadi ditambahi kemampuan sebagai penelepon, dan juga mampu menggunakan aplikasi yang ada pada Windows Phone, sementara Windows Phone mampu menggunakan perangkat dengan layar lebih besar, USB, printer, dan tentunya aplikasi yang ada pada Windows Store.

Menyatukan kedua Application Store seperti ini memang butuh waktu yang tak sebentar, baik dari Microsoft dan juga para developer aplikasi. Microsoft harus menyediakan API yang sama antara Windows Phone dan RT, sementara developer harus mau menulis aplikasinya lagi agar tampak lebih konsisten.

Ada tambahan pikiran? Let me know.

Desktop Class 64-bit Processor di Apple iPhone 5s?

Apple memang baru saja mengumumkan bahwa mereka akan merilis flagship smartphone mereka, Apple iPhone 5s, yang hendak menggantikan Apple iPhone 5 yang sudah dirilis sembilan bulan yang lalu. Seperti biasa, Apple menggaungkan kata inovasi: mereka adalah perusahaan pertama yang menawarkan smartphone berprosesor 64-bit yang mereka sebut “Desktop-class”. Tapi, apakah benar demikian?

Apple memang melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam meningkatkan mikroproseor di dalam SoC A7 yang mereka gunakan di dalam iPhone 5s, dengan membenamkan arsitektur 64-bit di dalamnya, menggantikan arsitektur 32-bit yang sebelumnya telah digunakan di dalam SoC A6 dan sebelumnya. Apa artinya? Tentu saja, secara logika hal ini bisa ditranslasikan menjadi peningkatan performa yang signifikan, mengingat arsitektur 64-bit yang digunakan A7 memiliki lebar bus yang dua kali lebih lebar daripada A6. Namun, arsitektur A7, meskipun sama-sama menggunakan gimmick “64-bit”, belum lah menjadi sama dengan 64-bit yang digunakan di prosesor kelas desktop, jadi, tentu saja hal ini adalah overhype yang dilakukan oleh Apple.

Ada lagi: banyak pengguna awam yang tidak begitu memahami bagaimana arsitektur aras rendah tersebut bekerja, dan tentu saja ada pikiran “Bigger is Better”, maka menggunakan angka yang besar ditranslasikan sebagai sesuati lebih baik. Padahal, yang sebenarnya diunggulkan dari arsitektur 64-bit hanyalah pengalamatan memori RAM yang digunakannya, di mana saat menggunakan arsitektur 32-bit, prosesor tersebut hanya mampu mengalamati hingga 4 gigabyte saja. Bila Anda pernah menggunakan PC dengan RAM lebih dari 4 Gigabyte di atas Windows XP versi 32-bit, maka mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa sistem Anda hanya mampu mengalamati kira-kira 3.5 Gigabyte doang, sementara hal ini tidak akan terjadi bila Anda menggunakan Windows versi 64-bit. Wah, kalau begitu, RAM yang dibenamkan di dalam iPhone 5s bisa lebih besar dong? Yap. Namun, apakah Apple membenamkan memori RAM lebih besar dari 4 Gigabyte di dalam iPhone 5s? Android yang paling kuat saja sekarang hanya dipersenjatai 2 Gigabyte saja. Kalau tidak, kenapa kesannya kok terburu-buru menggunakan arsitektur 64-bit?

Wait… Wait… bukannya di dalam iklannya memori yang digunakan di dalam iPhone 16 Gigabyte, 32 Gigabyte atau 64 Gigabyte? Well, bila Anda memahaminya demikian, maka Apple sukses membius Anda dan membuat Anda salah kaprah mengenai memori RAM (media penyimpanan untuk sistem dan proses) dan memori yang digunakan sebagai storage (media penyimpanan data). Sebenarnya, iPhone 5 yang dirilis sebelumnya hanya memiliki memori RAM 1 Gigabyte saja, bukan 16 GB, 32 GB atau 64 GB. Lantas apakah dalam iPhone 5s ditambahkan menjadi lebih besar dari 4 GB? I doubt that.

Kendala lainnya juga adalah dukungan perangkat lunak. Apakah iOS 7 sistem operasi yang benar-benar 64-bit, seperti halnya Windows x64 atau Linux? Melihat sejarahnya, memang iOS adalah turunan dari Mac OS X, namun hanya dioptimalisasikan untuk digunakan di dalam smartphone dan perangkat iDevice lainnya, dan basis kode yang sama tersebut hanya ada di versi 32-bit saja, dan belum ada 64-bit seperti versi Mac OS X. Lalu, meskipun iOS 7 sudah mendukung 64-bit, apakah aplikasinya juga sudah mendukung—kita tahu bahwa 700000+ aplikasi di Apple App Store adalah 32-bit? Lho, bukannya Windows x64 juga bisa menjalankan aplikasi Windows 32-bit? Ya, dan itu ada sesuatu yang dikorbankan: performa, meski tidak seberapa. Hal ini terjadi karena Windows menjalankan aplikasi 32-bit di dalam sebuah lapisan emulasi (WOW64). Apakah hal yang sama (lapisan emulasi) pula ada di iOS 7? Apakah developer juga harus melakukan kompilasi ulang terhadap aplikasinya agar dapat terus digunakan pada iOS versi baru itu?

Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan dalam transisi kali ini, namun memang pengumuman tentang iPhone memang selalu mengundang sensasi, bahkan semenjak mendiang Steve Jobs masih ada. Mereka menggunakan kata-kata “magic”, “innovation”, dan “first” sebagai marketing gimmick. Namun bagi saya, prosesor 64-bit sekelas desktop di dalam smartphone hanyalah sebuah gimmick semata.