Hidup Termotivasi? Kenapa tidak?

Hidup selalu optimis dan termotivasi… Siapa yang tidak mau memiliki kehidupan seperti itu. Selain menyehatkan pikiran pribadi, optimistis dan motivasi juga mampu mengurangi beban orang lain yang ada di sekitar kita. Namun, bagaimana sih caranya agar kita bisa termotivasi secara terus-menerus, dan tak mudah untuk mengeluh?

Berikut ini adalah beberapa resep yang bila kita lakukan secara terus-menerus pula akan membuat kita lebih energik, termotivasi, dan tentunya lebih menikmati hidup.

Kenali tujuan “mengapa” sebelum melakukan sesuatu.

Bila kita tidak tahu menahu mengapa kita melakukan sesuatu, maka bisa jadi ada bagian dalam hidup kita yang “berlubang” tanpa makna. Satu pekerjaan yang kita tidak tahu apa tujuannya, terasa ada yang kurang, apalagi bila banyak pekerjaan dalam kehidupan kita yang kita tak tahu apa tujuannya. Yang pasti, hal tersebut bisa membuat kehidupan kita terasa tak bermakna. Tanpa tujuan. Pointless. Meaningless. Dead man walking.

Ya, apapun yang kita lakukan sebaiknya punya dasar alasan yang kuat mengapa harus kita lakukan. Karenanya, sebaiknya ketahui terlebih dahulu sebab mengapa kita melakukannya agar mampu mendongkrak motivasi yang kita miliki. Saat motivasi dan energi penuh, kita juga bisa menjadi lebih fokus terhadap permasalahan dalam hidup yang kita alami, dan tentunya tujuan hidup kita sendiri.

Bertanggung jawab atas semua hasil dari yang didapat oleh sendiri.

Bertanggung jawab di sini tidak berarti harus mengambil semua efek yang terjadi saat sebuah kejadian terjadi, baik saat bangkit maupun saat bangkrut. Namun, konteksnya di sini adalah kita harus tahu apa yang harus dilakukan di kemudian waktu. Saat bertanggungjawab terhadap apapun yang kita lakukan, maka kita mengambil alih kontrol apapun yang mungkin terjadi di masa depan dengan aksi kita. Akhirnya, Kita pun lanjut maju hingga tujuan tercapai, meski banyak rintangan menghadang dan hasil akhir tak seindah harapan.

Jangan menunggu sempurna. Just do it.

Bagi saya, para perfeksionis adalah orang yang tak bisa menikmati kehidupan, karena mereka selalu mengharapkan kesempurnaan hal-hal yang mereka ingin lakukan, bahkan sebelum mereka beraksi. Bahkan saat kondisi “sempurna” itu pun tercapai, mereka tak dapat menikmatinya sebab bisa saja dalam aksinya, mereka menemukan ketidaksempurnaan yang membuat hasil akhirnya tidak sempurna, padahal tidak ada yang salah pada hasil akhir.

و ما اللذة إلّا بعد التعب

Kenikmatan sesungguhnya dari memperoleh prestasi tidak datang dari apa yang diperoleh, namun dari usaha yang kita keluarkan untuk menjadikannya mungkin terjadi, syukur-syukur saat dinilai “berprestasi” oleh orang sekitar. Bagi saya, kesempurnaan hasil hanya dimiliki oleh Yang Maha Sempurna. Kesempurnaan kita, manusia, ada pada ketidaksempurnaan kita dan kita “perfectly free” untuk melakukan apapun yang kita inginkan, kapan pun, di manapun, selagi kita tidak terbatasi oleh malu.

Sukses butuh energi, karena itu cari makanan yang berenergi pula.

Masyarakat sekarang terjebak dalam wabah obesitas yang terjadi karena kelakuan sendiri, yakni dengan mengonsumsi makanan adiktif yang sebenarnya mempersingkat waktu hidup.

Well, memang tidak semua makanan yang begitu bersifat adiktif dan menyebabkan kehidupan yang lebih singkat. Ada banyak pula makanan yang sehat. Namun, kandungan energi dan gizi yang ada dalam makanan tersebut mungkin saja tidak cukup untuk kita beraktivitas hingga memperoleh kesuksesan setiap hari. Tubuh kita butuh bahan bakar yang kuat agar kesuksesan yang kita peroleh juga kuat pula, tak gampang goyah, dan itu tidak datang dari gula atau gorengan semata.

Bergaul dengan orang yang termotivasi pula

Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa orang yang berada di sekeliling kita akan mempengaruhi keadaan dan sikap kita. Salah satunya adalah, karena kita mendefinisikan apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang normal dilakukan, dan akhirnya kita pun menyesuaikan diri kita dengan menggunakan tingkatan-tingkatan “normalitas” mereka.

Nah, saat kita bergaul dengan orang yang termotivasi, penuh energi, passionate, pekerja keras, dan mengetahui apa tujuan hidupnya, maka definisi normal kita adalah orang orang yang begitu pula. Saat kita kurang termotivasi dibandingkan dengan orang sekitar, maka kita pun akan berpikir mengapa demikian, dan begitulah seterusnya.

Bergaul dan mencari orang termotivasi memang tidak mudah, namun tak ada salahnya bila kita mencoba mendekati orang-orang yang kita pandang memiliki motivasi lebih, agar kita tidak menyesal di akhir nanti.

يَـٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِى لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلاً۬

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab bagiku (al-Qurân, Surat al-Furqân, ayat 27)

Well, semoga kita masih diberikan kesempatan untuk terus melakukan apapun dalam kondisi termotivasi, agar hal tersebut bisa berbekas secara baik di dalam pengalaman. Amien.

Allâhu a’lamu bi-s-shâwabi